Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “wisata halal” menjadi semakin populer dikalangan pelaku industri pariwisata global. Mulai dari maskapai penerbangan, hotel, hingga destinasi wisata di negara-negara non-Muslim mulai melirik peluang besar dari pasar wisatawan Muslim.
Namun, muncul pertanyaan penting: apakah wisata halal hanyalah tren global sesaat, atau merupakan kebutuhan mendasar yang bersifat mendesak, terutama bagi seorang Muslim?
Menurut laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2024 dari Mastercard dan CrescentRating, lebih dari 176 juta wisatawan Muslim melakukan perjalanan internasional pada tahun 2024. Jumlah ini melonjak drastis dibanding tahun sebelumnya. Diperkirakan akan mencapai 245 juta orang pada tahun 2030.
Dari sisi ekonomi, belanja wisatawan Muslim global diproyeksikan menyentuh US$225 miliar pada 2028 (Mastercard–CrescentRating, 2024).
Lebih lanjut, Allied Market Research mencatat bahwa nilai pasar wisata halal dapat mencapai US$410,9 miliar pada 2032. Ini menjadikannya salah satu segmen pariwisata yang tumbuh paling cepat
Pertumbuhan pesat wisata halal ini sebagian besar dipacu oleh generasi muda Muslim, terutama kelompok milenial dan Gen-Z. Laporan Muslim Millenial Travel Report (2017) menyebutkan bahwa generasi millenial Muslim (usia 18-36 tahun) merupakan kelompok dominan dalam pasar wisata Muslim.Mereka diperkirakan akan membelanjakan lebih dari US$100 miliar per tahun untuk perjalanan wisata pada tahun 2025 (HalalTrip & CrescentRating).
Sekitar 60% dari total populasi Muslim dunia berusia dibawah 30 tahun, menjadikan kelompok ini sebagai target utama dalam strategi pemasaran pariwisata halal. Mereka tumbuh dala era digital, memiliki akses luas terhadap informasi, dan mengutamakan pengalaman autentik yang tetap sejalan dengan nilai-nilai keislaman.
Baca Juga: Mengungkap Pesona Destinasi Wisata Muslim-Friendly di Indonesia Timur
Bagi banyak Muslim, wisata halal bukan hanya tentang mematuhi aturan syariat, tetapi juga menciptakan pengalaman perjalanan yang nyaman, aman, dan sesuai dengan syariat sehingga Allah meridhoi perjalanan tersebut. Mereka mencari:
Studi oleh Universitas Indonesia (JITPS, 2022) terhadap wisatawan Muslim di Jakarta dan Sumatera Barat menunjukkan bahwa keputusan memilih destinasi sangat dipengaruhi oleh tersedianya fasilitas halal dan persepsi bahwa destinasi tersebut ramah terhadap Muslim. Ini menunjukkan bahwa wisata halal bukan sekadar tren konsumtif, melainkan cerminan dari kebutuhan nyata.
Tak hanya negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, Malaysia, atau Uni Emirat Arab, tetapi juga negara-negara non-Muslim seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, hingga Selandia Baru kini berlomba menyediakan layanan halal, toilet dengan pancuran untuk wudhu, hingga panduan arah kiblat di hotel-hotel. Hal ini tidak lepas dari meningkatnya wisatawan Muslim yang mengunjungi negara tersebut setiap tahun.
Korea Selatan bahkan meluncurkan aplikasi Muslim-Friendly travel untuk membantu wisatawan Muslim menemukan tempat makan halal dan lokasi ibadah, sebagai bagain dari strategi meningkatkan kunjungan dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.
Baca Juga: Kuliner Halal Saat ke Negara Non-Muslim? Bisa Banget, Gengs!
Meski mengalami pertumbuhan, wisata halal masih menghadapi beberapa tantangan. Di antaranya:
Namun, semua ini juga menjadi peluang. Negara seperti Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat wisata halal global. Melalui kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas, Indonesia bisa menciptakan ekosistem wisata halal yang unggul dan berkelanjutan.
Melihat data dan fakta yang ada, wisata halal bukan sekadar tren global sementara. Ia adalah respons langsung terhadap kebutuhan nyata generasi Muslim saat ini, terutama generasi millenial dan Gen-Z yang ingin menjelajah dunia tanpa meninggalkan nilai-nilai yang mereka yakini.
Pertumbuhan wisata halal mencerminkan transformasi gaya hidup umat Muslim modern: mereka ingin menjadi bagian dari dunia global, namun tetap berpegang pada prinsip agama. Maka, wisata halal hari ini tidak lagi dianggap sebagai segmen kecil. Ia adalah arus utama dalam industri perjalanan masa depan.
Dengan populasi Muslim dunia yang terus meningkat dan generasi muda yang semakin sadar akan identitasnya, wisata halal akan terus berkembang bukan hanya sebagai pilihan, tetapi sebagai kebutuhan pokok.
Kalau biasanya orang ngomongin destinasi laut impian itu Bali, Maldives, atau Raja Ampat, sebenarnya Indonesia…
Kalau kamu ngerasa destinasi wisata sekarang makin rame, penuh antrian, dan kadang overhyped, mungkin ini…
Kalau kamu lagi cari tempat wisata yang belum terlalu ramai tapi punya view yang bikin…
Kalau kamu lagi cari gunung yang belum terlalu ramai tapi punya pengalaman pendakian yang “niat”,…
Kalau kamu lagi cari destinasi pendakian yang belum terlalu ramai, minim distraksi, dan masih super…
Kalau kamu lagi jenuh sama rutinitas dan butuh tempat buat “kabur” sejenak dari hiruk-pikuk kota,…