Siapa bilang liburan asyik itu harus jauh-jauh ke pantai? Di Lombok Tengah, ada satu kampung hijau yang bikin hati adem: Desa Wisata Hijau Bilebante. Warga setempat menyapa ramah, hamparan sawah membentang, angin lembut bawa aroma padi—suasana yang bikin kita betah lama-lama. Bilebante berada di Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Dari Kota Mataram kurang lebih 30 menit berkendara, sementara dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid sekitar 24 km atau ±35–40 menit perjalanan—dekat, kan?
Yang bikin Bilebante “lain dari yang lain” adalah transformasinya. Dulu kawasan ini dikenal sebagai area tambang pasir; sekarang disulap menjadi destinasi ekowisata yang rapi, bersih, dan hidup dari gotong royong warga. Kemasannya bukan wisata “tempelan”, tapi benar-benar menyatu dengan kegiatan harian masyarakat Sasak—jadi pengalaman yang kita rasakan itu autentik, bukan sekadar tontonan.
Bilebante juga sering dijuluki “desa wisata hijau” karena fokus pada lanskap persawahan, kebun sayur-buah, sungai kecil, sampai kebon herbal. Jalur sepedanya mantep: ada rute 3 km, 4 km, dan 8 km. Yang pemula santai saja, yang sudah biasa gowes bisa pilih rute menengah dengan latar Gunung Rinjani di kejauhan. Sensasinya? Sejuk, tenang, dan fotogenik untuk feed kamu.
Satu lagi nilai yang terasa hangat di sini: harmoni antarwarga. Komunitas Sasak hidup berdampingan dengan warga Hindu. Kita bisa menyusuri kampung-kampung, menyapa orang-orang yang sedang beraktivitas, dan merasakan bagaimana keberagaman itu hadir secara natural, bukan dibuat-buat. Ada juga Jembatan Pancasila warisan era kolonial dan spot “Lingkoq Jodoh” yang sering jadi titik foto sekaligus tempat rehat saat tur bersepeda.
Bilebante bukan cuma “lihat-lihat sawah”. Ada banyak aktivitas yang bisa kamu pilih sesuai selera:
Bilebante itu inklusif—harga aktivitas dan fasilitasnya ramah di kantong. Homestay warga rata-rata di kisaran Rp200.000 per malam (bersih, nyaman, dan terasa seperti di rumah keluarga sendiri). Ada pula paket kuliner tepi sawah, terapi kebugaran, camping ground, kebun herbal, sampai ATV. Semua dikelola komunitas, sehingga manfaatnya kembali ke desa.
Kerja kolektif warga memang keliatan hasilnya. Bilebante masuk 100 Besar ADWI 2021 (Anugerah Desa Wisata Indonesia), dan pernah dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik 2017 versi Kementerian Desa PDTT—bukti konsistensi dan kualitas pelayanan. Buat traveler, ini semacam “garansi” bahwa destinasi dikelola serius.
Gaya wisata di Bilebante itu “pelan tapi mengena”—kita diajak menyerap ritme kampung, menikmati hijau persawahan, lalu duduk santai menyesap jamu hangat sambil bercakap dengan ibu-ibu yang baru selesai menumbuk bumbu. Bahasa timur bilang, “datang dong, rasa bae-bae, pulang hati tambah lega.” Dan benar, di sini kamu tidak sekadar mengisi album foto; kamu mengisi batin dengan pengalaman yang tulus dan menyehatkan.
Kalau kamu cari liburan yang dekat, jujur, dan ramah—Bilebante jawabannya. Selamat menyusun rencana; desa hijau ini siap sambutmu seperti keluarga.
Sulawesi Barat tidak hanya dikenal dengan keindahan pantainya dan budaya maritim masyarakat Mandar, tetapi juga…
Indonesia memiliki ribuan pulau yang menyimpan pesona luar biasa, termasuk di Provinsi Gorontalo. Salah satu…
Sulawesi Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang menyimpan banyak destinasi wisata alam dengan…
Punya waktu hanya satu hari di Gorontalo bukan berarti liburanmu jadi membosankan. Provinsi yang berada…
Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan dikenal sebagai daerah yang kaya akan wisata alam. Selain kawasan…
Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, banyak orang mulai mencari destinasi wisata yang menawarkan suasana tenang…