Gunung Gamalama adalah stratovolcano aktif yang berdiri anggun tepat di jantung Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara. Dengan tinggi sekitar 1.715 meter di atas permukaan laut, gunung ini menjadi pemandangan pertama yang menyapa setiap orang yang datang, baik melalui udara maupun laut. Dari mana pun Anda memandang, Gamalama selalu tampak gagah, bahkan dari pulau-pulau tetangganya seperti Tidore, Maitara, hingga Halmahera.
Nama “Gamalama” sendiri diyakini berasal dari bahasa lokal Kie Gam Lamo, yang berarti “Negeri yang Besar”. Julukan ini bukan hanya karena ukurannya yang mendominasi pulau, tetapi juga karena perannya sebagai pusat kehidupan masyarakat Ternate sejak berabad-abad lalu.
Gunung Gamalama bukan hanya indah, tapi juga menyimpan sejarah panjang. Letusan pertamanya tercatat pada tahun 1538. Sejak saat itu, gunung ini meletus lebih dari 60 kali. Salah satu letusan paling dahsyat terjadi pada 1775, yang menewaskan 141 orang dan memunculkan Danau Tolire—sebuah danau kawah yang kini menjadi salah satu objek wisata terkenal di Ternate.
Letusan besar lainnya terjadi pada 1908, ketika lava panas mengalir hingga ke bibir pantai. Di abad ke-20, Gamalama beberapa kali menunjukkan aktivitasnya, seperti pada 1988, 1990, 1993, dan 1994. Letusan-letusan tersebut memuntahkan abu hingga 5 km ke udara dan memaksa ribuan warga mengungsi. Terakhir, pada 2011, hujan abu dan aliran lahar dingin kembali mengganggu aktivitas masyarakat.
Meski letusan membawa risiko, ada sisi positifnya: abu vulkanik yang dihasilkan membuat tanah di sekitarnya sangat subur. Tidak heran, lereng-lereng Gamalama dipenuhi tanaman rempah seperti cengkeh, pala, dan kayu manis—rempah yang dulu menjadi “emas” bagi Kesultanan Ternate.
Salah satu peninggalan alam akibat letusan besar adalah Batu Angus. Ini adalah hamparan batu hitam dari lava beku yang membentang dari kaki gunung hingga laut. Pemandangannya unik: kontras antara batuan gelap dan birunya laut Maluku. Kini, Batu Angus dikelola sebagai destinasi wisata, bahkan diusulkan menjadi geopark nasional.
Bagi masyarakat Ternate, Gamalama bukan sekadar gunung api. Ia dianggap sakral. Setiap tahun, masyarakat menggelar tradisi Kololi Kie—ritual mengelilingi gunung sambil berdoa untuk keselamatan dan kelestarian alam. Ada pula kepercayaan unik: jumlah pendaki harus genap. Jika ganjil, dipercaya akan membawa nasib buruk. Meskipun terkesan mistis, aturan ini adalah bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur.
Pendakian ke Gamalama menawarkan kombinasi antara petualangan alam, sejarah, dan budaya. Jalur paling populer adalah melalui Desa Moya, dengan medan yang relatif landai dan waktu tempuh sekitar 3–4 jam menuju pos “Terminal” di ketinggian ±1.343 mdpl. Jalur lain adalah Marikurubu, yang lebih curam dan menantang.
Di perjalanan, Anda akan melewati kebun cengkeh, hutan hujan tropis, dan di ketinggian tertentu, padang edelweis yang memukau. Sesampainya di puncak, panorama 360 derajat menampilkan Pulau Tidore, Maitara, Hiri, dan hamparan laut Maluku yang biru tak berujung.
Selain mendaki, wisatawan juga sering menggabungkan perjalanan dengan camping, fotografi alam, atau kunjungan ke Danau Tolire dan Batu Angus sebelum atau sesudah pendakian.
Gamalama berada di kawasan hutan lindung yang kaya flora dan fauna endemik Maluku Utara. Lerengnya ditumbuhi pohon besar, tanaman obat, dan rempah. Beberapa spesies burung langka seperti kakatua putih, nuri Ternate, dan burung julang juga menjadikannya habitat alami. Aliran sungai kecil yang mengalir dari mata air pegunungan menambah kesejukan suasana.
Sebagai gunung api aktif, Gamalama kerap berstatus Waspada (Level II). PVMBG menyarankan pendakian tidak dilakukan dalam radius 1,5 km dari kawah. Cuaca juga patut diwaspadai karena kabut tebal dan hujan bisa membuat jalur licin.
Pendaki dianjurkan mempersiapkan diri secara fisik dan membawa perlengkapan memadai seperti jaket tebal, tenda, senter, dan logistik cukup. Menggunakan jasa pemandu lokal sangat direkomendasikan, baik untuk keselamatan maupun untuk memahami aturan adat setempat.
Gunung Gamalama adalah simbol keindahan dan kekuatan alam Ternate. Ia menyimpan kisah letusan-letusan besar yang membentuk lanskap pulau, memberikan tanah yang subur bagi rempah, sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya masyarakatnya.
Mengunjungi Gamalama bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga pengalaman spiritual dan historis. Dari lereng yang hijau, batu lava yang hitam, hingga puncak yang memandang luas ke samudra, setiap langkah di Gamalama adalah pengingat bahwa manusia dan alam bisa hidup berdampingan jika saling menghormati.
Kalau biasanya orang ngomongin destinasi laut impian itu Bali, Maldives, atau Raja Ampat, sebenarnya Indonesia…
Kalau kamu ngerasa destinasi wisata sekarang makin rame, penuh antrian, dan kadang overhyped, mungkin ini…
Kalau kamu lagi cari tempat wisata yang belum terlalu ramai tapi punya view yang bikin…
Kalau kamu lagi cari gunung yang belum terlalu ramai tapi punya pengalaman pendakian yang “niat”,…
Kalau kamu lagi cari destinasi pendakian yang belum terlalu ramai, minim distraksi, dan masih super…
Kalau kamu lagi jenuh sama rutinitas dan butuh tempat buat “kabur” sejenak dari hiruk-pikuk kota,…